Jumat, 20 Januari 2012

BUTA WARNA

BUTA WARNA


Hai, semuanya...
Hmm Buta warna adalah sesuatu yang bagi saya sendiri menakutkan karena indahnya dunia tak dapat kita nikmati sepenuhnya, banyak sekali disekeliling kita orang yang tidak dapat menikmati warna-warna indah disekitarnya.. Lalu kenapa bisa terjadi buta warna dan apa warna yang mereka lihat jika orang tersebut buta warna.. Berikut penjelasannya...

Mata normal memilki sel-sel batang( bacilus) dan kerucut( konus) pada retinanya. Berdasarkan adanya pigmen pekat warna (zat fotokimiawi) dan kepekaan terhadap panjang gelombang cahaya, sel-sel kerucut terbagi 3 jenis, yaitu: 1. sel kerucut dengan pigmen peka gelombang cahaya warna merah puncak absorbsinya pada gelombang cahaya sebesar 570 milimikron, 2. Sel kerucut dengan pigmen peka gelombang cahaya warna hijau, puncak absorbsinya pada gelombang cahaya sebesar 535milimikron, 3. sel kerucut dengan pigmen peka gelombang cahaya warna biru, puncak absorbsinya berada diantara gelombang warna hijau dan biru. Sehingga kemampuan mata melihat berbagai macam warna secara sempurna merupakan fungsi dari sel-sel kerucut.
Defisiensi( kekurangan/ketidakpunyaan) salah satu atau lebih sel konus tersebut mengakibatkan penderita kehilangan kemampuan melihat warna tertentu sesuai jenis sel konus yang tidak ia punyai. Orang tersebut dikatakn menderita buta warna. Warna merah proton, warna hijau disebut dutan/deuteran, warna biru disebut tritan. Tipe buta warna dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Tipe protan, yang komplit disebut protanopia ( buta warna merah) dan yang parsial disebut protanomalia( kelemahan melihat buta warna).
2. Tipe deuteran, yang komplit disebut deuteranopia( buta warna hijau) dan yang parsial disebut deteranomalia ( kelemahan melihat warna hijau).
3. Tipe tritan, yang komplit disebut tritanopia ( buta warna biru) dan yang parsial disebut tritanomalia ( kelemahan melihat warna biru), tipe ini adalah yang paling jarang ditemui.

Pada protanopia besarnya spektrum warna yang dapat melihat lebih pendek pada akhirnya jika dibandingkan dengan depan normal bagian spektrum yang ada pada keadaan normal nampak sebagian biru hijau, pada protanopia akan nampak sebagai kelabu. Keseluruhan luas spektrum warna yang dapat dilihat pada protanopia ini terdiri dari dua area yang yang terpisah dan masing-masing area oleh bagian kelabu. Pada protanopia ini tiap-tiap area nampak sebagai sistem warna yang terang dan cemerlang berbeda dengan setiap area warna pada satu area perbedaan dan area yang lain. Merah dengan warna-warna ungu yang merupakan tambahan warna hijau dan tampak sebagai kelabu.
Pada deutranopia yang bagian spektrumnya pada keadaan normal tampak sebagai hijau , disini tampak sebagai kelabu dan luas spektrum penglihatan terbagi oleh zona ini menjadi dua area yang masing-masing nampak sebagai satu sistem warna. Luasnya spektrum warna yang terlihat tidak berkurang, berbeda dengan protanopia. Ungu merah yang merupakan warna tambahan hijau terlihat juga sebagai kelabu.
Pada protanomalia dan deuteranomalia tidak ada bagian spektrum warna yang nampak sebagai kelabu. Tapi bagian spektrum yang nampak pada keadaan protanopia sebagai kelabu, pada protanomalia nampak sebagai kekelabuan yang warnanya kacau mendekati kelabu.
Akibatnya, satu keganjilan defisiensi merah hijau adalah bahwa warna biru dan kuning tampak sebagai warna yang menarik dibandingkan dengan warna merah hijau. Terapan dari keganjilan pada tes defisiensi penglihatan warna adalah membedakan macamnya pada seri ini.
Defisiensi penglihatan warna bersifat kongenital, dan sangat jarang terjadi defisiensi terhadap warna secara total. Kepekaan melihat warna pada kelemahan total merah-hijau seperti halnya kuning dan biru adalah sangat rendah dan hanya warna terang yang dapat terlihat. Selain kelemahan kepekaan terhadap warna ini tidak mengalami abnormalitas dalam fungsi penglihatan.
Sangat jarang sekali terjadi kelompok orang yang menderita buta warna total dan dapat menyebabkan kegagalan komplit dalam membedakan berbagai variasi warna biasanya berhubungan dengan kegagalan penglihatan sentral dengan fotofobia dan nistagmus. Selanjutnya kegagalan dalam apresiasi biru dan kuning dapat disebut tritanomalia parsial dan tritanopia jika komplit, tetapi kasus ini sangat jarang.

Semoga bermanfaat.....

Daftar Pustaka
Guyton,A.C.&Hall,J.E.1996.Textbook of Medical Physiology.W.B.Saunders Company USA

1 komentar: